“Pelit” memberi obat kepada anak yang sakit

Posted: June 11, 2012 in Dokumentari
Tags: , , , , ,

Beberapa waktu yang lalu, anak pertama kami_Hana_mengalami demam yang cukup tinggi hingga 39 derajat celcius, menurut thermometer digital. Awalnya sang ibu masih bisa tenang sambil berharap demam masih bisa turun dengan dikompres. Memasuki hari kedua, demam tidak juga turun sehingga istri saya mulai khawatir dan minta untuk segera dibawa ke dokter. “Sudah…, dirawat di rumah saja dulu… Coba minumkan campuran madu, sari kurma dan sedikit minyak habbatussauda. Kalau masih tinggi demamnya, baru kita ke dokter” ujarku mencoba menenangkan istri. Yah.., namanya juga seorang ibu, mana tahan melihat anak manisnya yang biasanya periang kini meringkuk lemas di kamar tidur. Akhirnya kami sepakat untuk membawa Hana ke dokter terdekat.

Setelah diperiksa, ternyata Hana terkena virus influenza dan radang tenggorokan. Sang dokter pun langsung menulis resep obat untuk anak kami. Sesampainya di rumah, istri saya langsung memberikan obat yang tadi ditebus kepada Hana. Ada 2 macam obatnya. Yang pertama adalah obat untuk influenza berupa sirup manis, yang kedua antibiotik yang sudah dihaluskan dan sepertinya rasanya pahit. Ketika coba diminumkan (dengan mencampur serbuk antibiotik dengan obat sirup), Hana menolak dengan “melepeh”nya. Beberapa kali kami coba hasilnya tetap sama, “Hana tidak suka” begitu katanya. Well…, kembali lagi ke campuran madu, sar-kum dan minyak habbatussauda. Anehnya, anak kami merespon positif ketika diberikan campuran herbal tadi. Sangat jauh berbeda ketika diberikan obat dari dokter, padahal minyak habbatussauda itu rasanya sedikit pahit dan ada rasa pedas seperti mint.

Alhamdulillah, beberapa hari kemudian Hana kembali menjadi anak yang periang, sehat seperti sediakala. Nah… tak lama dari kejadian Hana sakit, seorang teman yang berprofesi sebagai dokter membuat tulisan menarik yang bersumber dari sebuah buku. Ini dia isi tulisan tersebut…..

 

Sebagian Alasan Kenapa Dokter Dokter Di Negara Maju “pelit” Kasih Obat ke Anak yg Sakit

** Dimana Salahnya?**

Malik tergolek lemas. Matanya sayu. Bibirnya pecah-pecah. Wajahnya kian tirus. Di mataku ia berubah seperti anak dua tahun kurang gizi. Biasanya aku selalu mendengar celoteh dan tawanya di pagi hari. Kini tersenyum pun ia tak mau. Sesekali ia muntah. Dan setiap melihatnya muntah, hatiku …tergores-gores rasanya. Lambungnya diperas habis-habisan seumpama ampas kelapa yang tak lagi bisa mengeluarkan santan. Pedih sekali melihatnya terkaing-kaing seperti itu.

Waktu itu, belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak juga ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dokter Knol namanya.

“Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection.” kata dokter tua itu.

“Ha? Just wait and see? Apa dia nggak liat anakku dying begitu?” batinku meradang. Ya…ya…aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain. Dikasih obat juga enggak! Huh! Dokter Belanda memang keterlaluan! Aku betul-betul menahan kesal.

“Obat penurun panas Dok?” tanyaku lagi.
“Actually that is not necessary if the fever below 40 C.”

Waks! Nggak perlu dikasih obat panas? Kalau anakku kenapa-kenapa memangnya dia mau nanggung? Kesalku kian membuncah.
Tapi aku tak ingin ngeyel soal obat penurun panas. Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat jenis lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu aku membawa setumpuk obat-obatan dari Indonesia, termasuk obat penurun panas.
Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya juga bertambah. Aku segera kembali ke dokter. Tapi si dokter tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium baru akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.

“Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok,” kataku.
Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. “Apakah dia sudah minum suatu obat?”

Aku mengangguk. “Ibuprofen syrup Dok,” jawabku.

Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,”Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja.”

Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku betul-betul jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau! Nah kalau buat anak nggak baik kenapa di Indonesia obat itu bertebaran! Batinku meradang.
Untungnya aku masih bisa menahan diri. Tapi setibanya dirumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku.”Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya je. Mau 37 keq, 38 apa 39 derajat keq, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Sirup ibuprofen juga dikasih koq ke anak yang panas, bukan cuma parasetamol. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!” Seperti rentetan peluru, kicauanku bertubi-tubi keluar dari mulutku.

“Mana Malik nggak dikasih apa-apa pulak, cuma suruh minum parasetamol doang, itu pun kalau suhunya diatas 40 derajat C! Duuh memang keterlaluan Yah dokter Belanda itu!”

Suamiku menimpali, “Lho, kalau Mama punya alasan, kenapa tadi nggak bilang ke dokternya?”
Aku menarik napas panjang. “Hmm…tadi aku sudah kadung bete sama si dokter, rasanya ingin buru-buru pulang saja. Tapi…alasannya apa ya?”

Mendadak aku kebingungan. Aku akui, sewaktu praktek menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek apa yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi hanya secuil-secuil ilmu yang kudapat. Persis seperti orang yang katanya travelling keliling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, lalu dua hari pergi ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas beberapa hari berdiam di Berlin dan Swiss, kemudian waktu habis. Tibalah saatnya pulang lagi ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama saja. Masih banyak sekali negara dan kota-kota di Eropa yang belum disambanginya. Dan itu lah yang terjadi pada kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah kadang-kadang apa yang sudah kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng seperti dokter-dokter senior, akhirnya kami pun sering mengintip resep ajian senior!

Setelah Malik sembuh, beberapa minggu kemudian, Lala, putri pertamaku ikut-ikutan sakit. Suara Srat..srut..srat srut dari hidungnya bersahut-sahutan. Sesekali wajahnya memerah gelap dan bola matanya seperti mau copot saat batuknya menggila. Kadang hingga bermenit-menit batuknya tak berhenti. Sesak rasanya dadaku setiap kali mendengarnya batuk. Suara uhuk-uhuk itu baru reda jika ia memuntahkan semua isi perut dan kerongkongannya. Duuh Gustiiii…kenapa tidak Kau pindahkan saja rasa sakitnya padaku Nyerii rasanya hatiku melihat rautnya yang seperti itu. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia pada putriku. Tapi batuknya tak kunjung hilang dan ingusnya masih meler saja. Lima hari kemudian, Lala pun segera kubawa ke huisart. Dan lagi-lagi dokter itu mengecewakan aku.

“Just drink a lot,” katanya ringan.

Aduuuh Dook! Tapi anakku tuh matanya sampai kayak mata sapi melotot kalau batuk, batinku kesal.

“Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?” tanyaku tak puas.

“This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik,” jawabnya lagi.

Ggrh…gregetan deh rasanya. Lalu ngapain dong aku ke dokter, kalo tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih vitamin keq! omelku dalam hati.
“Lalu Dok, buat batuknya gimana Dok? Batuknya tuh betul-betul terus-terusan,” kataku ngeyel.

Dengan santai si dokter pun menjawab,”Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak koq.”
Hmm…lumayan lah… kali ini aku pulang dari dokter bisa membawa obat, walau itu pun harus dengan perjuangan ngeyel setengah mati dan walau ternyata isi obat Thyme itu hanya berisi ekstrak daun thyme dan madu.

“Kenapa sih negara ini, katanya negara maju, tapi koq dokternya kayak begini.” Aku masih saja sering mengomel soal huisart kami kepada suamiku. Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Jadi yang ada di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia. Di Indonesia, anak-anakku punya langganan beberapa dokter spesialis anak. Dokter-dokter ini pernah menjadi dosenku ketika aku kuliah. Maklum, walaupun aku lulusan fakultas kedokteran, tapi aku malah tidak pede mengobati anakanakku sendiri. Dan walaupun anak-anakku hanya menderita penyakit sehari-hari yang umum terjadi pada anak seperti demam, batuk pilek, mencret, aku tetap membawa mereka ke dokter anak. Meski baru sehari, dua atau tiga hari mereka sakit, buru-buru mereka kubawa ke dokter. Tak pernah aku pulang tanpa obat. Dan tentu saja obat dewa itu, sang antibiotik, selalu ada dalam kantong plastik obatku.

Tak lama berselang putriku memang sembuh. Tapi sebulan kemudian ia sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini termasuk ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit. Karena khawatir ada yang tak beres, lagi-lagi aku membawanya ke huisart.

“Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya, kenapa ya Dok.?

Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,”Nothing to worry. Just a viral infection.”

Aduuuh Doook… apa nggak ada kata-kata lain selain viral infection seh! Lagilagi aku sebal.

“Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok,” aku ngeyel seperti biasa.

Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. “Do you know how many times normally children get sick every year?”

Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. “enam kali,” jawabku asal.

“Twelve time in a year, researcher said,” katanya sambil tersenyum lebar. “Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat,” sambungnya.
Glek! Aku cuma bisa menelan ludah. Dijawab dengan data-data ilmiah seperti itu, kali ini aku pulang ke rumah dengan perasaan malu. Hmm…apa aku yang salah? Dimana salahnya? Ah sudahlah…barangkali si dokter benar, barangkali memang aku yang selama ini kurang belajar.

Setelah aku bisa beradaptasi dengan kehidupan di negara Belanda, aku mulai berinteraksi dengan internet. Suatu saat aku menemukan artikel milik Prof. Iwan Darmansjah, seorang ahli obat-obatan dari Fakultas Kedokteran UI. Bunyinya begini: “Batuk – pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 – 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar. Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2 – 3 minggu selama bertahun-tahun.” Wah persis seperti yang dikatakan huisartku, batinku. Dan betul anak-anakku memang sering sekali sakit sewaktu di Indonesia dulu.

“Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam penanganannya,” Lanjut artikel itu. “Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 – 3 minggu dan perlu berobat lagi.

Lingkaran setan ini: sakit –> antibiotik-> imunitas menurun -> sakit lagi, akan membuat si anak diganggu panas-batuk-pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun.”

Hwaaaa! Rupanya ini lah yang selama ini terjadi pada anakku. Duuh…duuh..kemana saja aku selama ini sehingga tak menyadari kesalahan yang kubuat sendiri pada anak-anakku. Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho! Masa sih aku tak percaya kepada mereka. Dan rupanya, setelah di Belanda ‘dipaksa’ tak lagi pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak sehari-hari, sekarang kondisi anak-anakku jauh lebih baik. Disini, mereka jadi jarang sakit, hanya diawal-awal kedatangan saja mereka sakit.

Kemudian, aku membaca lagi artikel-artikel lain milik prof Iwan Darmansjah. Dan di suatu titik, aku tercenung mengingat kata-kata ‘pengobatan rasional’. Lho…bukankah dulu aku juga pernah mendapatkan kuliah tentang apa itu pengobatan rasional. Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yang selama ini kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan pada anak-anakku, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan seperti, batuk, pilek, demam, mencret, aku sudah panik dan segera membawa anak ke dokter, serta sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional! Hmm… kalau begitu, sistem kesehatan di Belanda adalah sebuah contoh sistem yang menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.

Belakangan aku pun baru mengetahui bahwa ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga di banyak negara termasuk Amerika Serikat, ibuprofen dipakai secara luas untuk anakanak. Tetapi karena resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen juga tersedia di apotek dan boleh digunakan untuk usia anak diatas 6 bulan, namun di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama pada anak yang mengalami demam. “Duh, untung ya Yah aku nggak bilang ke huisart kita kalo aku ini di Indonesia adalah seorang dokter. Kalo iya malu-maluin banget nggak sih, ketauan begonya hehe,” kataku pada suamiku.

Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan, ceritanya bisa lain. Karena kekurangan dan ketidakmampuan, untuk kasus penyakit anak sehari-hari, orang-orang desa itu malah relatif ‘terlindungi’ dari paparan obat-obatan yang tak perlu. Sementara kita yang tinggal di kota besar, yang cukup berduit, sudah melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Batuk pilek sedikit ke dokter, demam sedikit ke dokter, mencret sedikit ke dokter. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, ‘memaksa’ agar si dokter memberikan obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter ‘menjual’ obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.

Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?

Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Uh! Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!

Tapi yang pasti kini aku sadar…telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya ‘hanya’ untuk konsultasi, memastikan diagnosa penyakit anakku dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja.

Tapi di Indonesia, bukankah paradigma yang masih kerap dipegang adalah ke dokter = dapat obat? Sehingga tak jarang dokter malah tidak bisa bertindak rasional karena tuntutan pasien. Aku juga sadar sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi. Intinya, sistem kesehatan yang ada di Indonesia saat ini membuat dokter menjadi sulit untuk bersikap rasional.

Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Ah rasanya percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya. Menunjuk siapa yang salah pun tak ada gunanya. Tapi kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Yang pasti, sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Siapa bilang pasien tak punya kekuatan untuk merubah sistem kesehatan? Setidaknya, bila pasien ‘bergerak’, masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.

Dikutip dari buku “Smart Patient” karya dr. Agnes Tri Harjaningrum

Cover bukunya…

 

Jadi kalau menurut pribadi, kita ini berasal dari alam, memakan apa yang ada di alam, sehingga kalau ada yang tidak beres dengan tubuh kita… kembalilah ke alam.

Bukannya antipati terhadap dokter… itu profesi yang mulia ko’… Buktinya tulisan ini saya dapat dari seorang teman yang berprofesi sebagai dokter, bukunya ditulis oleh seorang dokter yang mengambil referensi dari dokter juga. Dan bukan pula phobia terhadap bahan kimia. Toh yang ada di alam ini juga terbuat dari unsur kimia… Yang jadi persoalan adalah jenis kimia apa yang dimasukkan ke dalam tubuh kita. Senyawa sintetis atau organik? Berbahaya atau aman untuk dikonsumsi? Menimbulkan efek samping yang negatif atau positif?

Sebagai penutup, yuk kita banyak belajar lagi, menambah wawasan dan ilmu…  Supaya kita tidak hanya menjadi smart patient, tetapi juga menjadi smart person…..

Thank’s to Dokter Alvian P. Muljono di Solo……..

Hana @TMII

Comments
  1. Aa Ikhwan says:

    Sip ajib..

  2. quantro says:

    seep… berarti akeh pembodohan ng indonesia ki, pembodohan otomotif, pembodohan pengobatan, dll…

  3. arie says:

    widiiih,, baru tau saya ada buku bagus kya gtu om…
    kalo boleh jujur indonesia itu negara terbesar yg pake antibiotik, sakit sedikit pake antibiotik, yg namanya antibiotik kan harus diminum sampai habis, jgn di sisain…padahal kalo kita pake antibiotik yg secara terus menerus tanpa indikasi yg jelas bisa jadi resisten ato bakteri penyebab penyakit di tubuh kita udah kebal sama antibiotik, jadi percuma kita pake antibiotik,penyakitnya jga gk keobatin om…
    kalo sakit flu ato panas sih mending istirahat sama minum vit.c aja om, kalo gk ya minum herbal yg kya om,, jgn pake antibiotik dulu, kecuali flu ato panasnya dah lebih dri 3 hari harus ke dokter…

    wah kepanjangan euy komennnya… hehehehe… salam kenal om…

  4. kakashi says:

    lhaaa berarti perlakuan dsa anakku benar dong, satiap berobat anakku gk pernah dikasih antibiotik, pdhl sy sering ngedumel kalo gk dikasih antibiotik bahkan pernah sekali sy minta antibiotik dsa nya malah senyum (gk perlu antibiotik katanya). ternyata ini toh maksudnya🙂

    • kmphlynx says:

      kalau saran dari teman di Jakarta yang juga berprofesi sebagai dokter, sebaiknya hindari penggunaan antibiotik… ada pengaruhnya terhadap sistem kekebalan tubuh manusia, katanya…

  5. wah… ternyata gak semua dokter itu pinter ya..
    nice info, om…

    ijin share ya, om…

  6. kid1708 says:

    tidak ada orang yg baik dalam segala hal😀
    kayaknya bukunya bagus, jadi ada 2 buku tentang kedokteran yg menurut saya bagus, satu yg diatas dan satunya lagi adalah kesaksian seorang dokter

  7. gasfuel says:

    maaf lo ya pak dokter bukan saya mau bikin ulah ato apa,,saya orang medis juga lo. dari artikel diatas saya setuju banget, sama seperti yg pernah diajarkan oleh dosen saya dulu.
    “memberikan obat harus berdasarkan kebutuhan kalau memang tidak perlu kenapa harus dikasih, kan tau sendiri obat itu sebenarnya apa?”
    kebanyakan dokter di indonesia baik itu dr.umum ato yg sudah Sp sering memberikan obat2 yg seharusnya tidak perlu, ini juga berkaitan dg ref obat yg sering bekerja sama dg dokter untuk memakai produk obatnya dg iming2 bonus dan ini juga yg menjadikan harga obat menjadi mahal.tapi tidak semua juga sih begitu,,
    dan di daerah tempat saya bekerja malah aneh lagi,, pasien datang berobat ga puas kalau ga disuntik,😀
    pertama tama sih saya kaget juga,,
    setelah saya tanya2 ke beberapa pasien yg berobat,ini dikarena kebiasaan petugas sebelum – sebelumnya

    • kmphlynx says:

      qoute:
      “dan di daerah tempat saya bekerja malah aneh lagi,, pasien datang berobat ga puas kalau ga disuntik, :D”

      wah…, repot juga kalau pasiennya begitu….😯
      trims share-nya, Om…🙂

      ps: saya bukan dokter… tapi mantri hape….:mrgreen:

      • gasfuel says:

        bener mas kadang2 saya bosen juga keseringan edukasi pasiennya tapi tetep aja ngotot
        tapi
        “ini sudah tugas saya, saya yg memilih jalan ini, saya akan jalani spenuh hati”

        mantri hape ya,, wah pas banget nih hape nokia c6 saya sering ngeblank layarnya kalau saya buka slidernya,, itu kenapa ya mas..? tapi kadang normal2 aja
        pemakaian dah lebih dari setahun

        • kmphlynx says:

          wah… tugas mulia itu, Om… selamat berjuang…🙂

          soal C6-slide, wajar jika sudah setahun masa penggunaannya kabel fleksibel rusak. biasanya sudah getas. kalau diperbaiki, tinggal minta teknisinya untuk mengganti kabel fleksibelnya saja…
          semoga berhasil…🙂

          • vixy182 says:

            Cukup mnarik postinganx bro…., juga menambah wawasan nih🙂 …., kalo pasien berpikiran kalo sakit harus di suntik agar cepet sembuh itu mah di daerah ane kalimantan juga kbnyakan kek gitu bro pikiranx, gak peduli sakit apa….🙂

          • kmphlynx says:

            lebih asik lagi, beli bukunya Bro…
            semoga bermanfaat…🙂

    • arie says:

      di sinyalir agan ini profesinya apoteker ya???

  8. discovery says:

    minta ijin untuk bookmark🙂

  9. Warga Sipil says:

    Nice share.. Izin copas ya Gan..?

  10. Abdurrahman says:

    Ijin Ctrl-D ya mas, berguna banget infonya..

  11. jaka says:

    waduh langsung tak bookmark aja deh,,

  12. nadiaananda says:

    bagus sekali artikelnya, thx

  13. dedeariyanto says:

    Artikel yang menarik….
    Jika berkenan mampirlah ke blog aku juga yah…. klik disini jangan lupa komentarnya di bawah posting🙂 Trims.

  14. ghomo says:

    maaf br aja sy baca blog ini,lgsg inget anak sy kl skt,sy mau nanya campuran madu,sari kurma dan habbatusaudah itu bgmn mencampurnya?brp takaran utk msg2?krn kl tdk slh habbatusaudah itu kapsul,lalu dmn sy bs beli sari kurma dan habbatusada?

    • kmphlynx says:

      tidak perlu repot ko’. sekarang di toko-toko herbal sudah banyak produk madu dan sari kurma yang sudah di “mix” dengan habbatussaudah dan minyak zaitun. diantaranya yang sering kami konsumsi adalah walad honey premium dan kids honey, merk syamil juga bagus…
      kalau untuk dewasa, biasanya dua kapsul habbat saya keluarkan isinya dan ditaruh di sendok lalu dituangkan madu secukupnya. efektif untuk menyembuhkan radang, batuk dan pilek (tested on me). soal takaran, tinggal disesuaikan saja. misal, ketika sedang radang dan batuk, biasanya jumlah habbatnya yang diperbanyak ketimbang madu…
      yah… dikira-kira sendiri saja, asalkan cukup kadarnya dan tidak berlebihan meskipun efek samping dari obat herbal nyaris tidak ada😀
      yang penting, mengkonsumsinya harus konsisten dan jangan berpikir bisa langsung sembuh dengan instan. kalaupun sudah sembuh, baiknya tetap mengkonsumsinya untuk pencegahan dan peningkatan daya tahan tubuh. hanya saja dosisnya dikurangi tidak seperti ketika proses pengobatan… biar ekonomis…:mrgreen:

  15. bunda almira says:

    izin share ya mba;) infonya berharga banget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s