Kalau bisa, jangan terlalu cepat…

Posted: May 17, 2011 in Uncategorized

Dulu, waktu masih kuliah, pernah dapet materi yang sangat bagus dari dosen mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia. Materinya waktu itu adalah tentang “Change Management” atau Manajemen Perubahan. Beliau (sang dosen) menyampaikan kalau perubahan, apapun bidangnya, adalah sangat menyakitkan, tidak menyenangkan atau mengganggu. Alasannya adalah karena perubahan akan memaksa seseorang atau sesuatu untuk meninggalkan kebiasaannya menuju atau menjadi sesuatu hal yang baru.

Dalam hal perubahan, adalah hal yang sangat alami jika pihak status quo (restraining force) menentang change agent/agen perubahan (driving force). Penyebabnya sedehana, change agent meminta status quo untuk meninggalkan zona aman dan nyamannya menuju sesuatu hal baru yang belum tentu akan menyenangkan pihak statu quo. Di sinilah manajemen perubahan diperlukan.

Pada dasarnya, disadari atau tidak, segala sesuatu yang ada di muka bumi ini senantiasa berubah. Tinggal kita siap menerimanya atau tidak. Bagi yang siap, perubahan merupakan sebuah proses metamorfosis sempurna bagi mereka, karena dengan perubahan mereka akan naik ke proses berikutnya yang lebih tinggi dan lebih baik. Bagi yang ragu-ragu, perubahan dianggap sebagai hal yang mengganggu stabilitas rutinitas mereka yang sudah merasa cukup dan nyaman dengan kondisinya saat itu. Namun bagi mereka yang tidak siap, perubahan adalah momok menakutkan yang akan menghancurkan kehidupan mereka.

Sebetulnya semua orang, makhluk hidup bahkan benda mati sekalipun bisa menerima perubahan. Caranya? Kita bahas yang biuat manusia saja, ya..?

Kata Pak Dosen, salah satu syarat supaya program perubahan diterima adalah dengan sosialisasi. Jadilah seorang presenter bahkan kalo perlu jadi kaya’ sales, yang bisa memaparkan dengan jelas keuntungan-keuntungan yang akan di peroleh dari program perubahan tersebut. Sampaikan dengan bahasa dan metode yang sesuai (dapat diterima) oleh target perubahan. Jelaskan tahapan-tahapan yang akan dilalui dan dampingi target perubahan dalam menjalani proses tersebut.

Syarat berikutnya adalah jangan tergesa-gesa dalam menerapkan perubahan. Untuk membentuk sebuah katana yang baik dari sebongkah besi, diperlukan proses yang panjang dan menuntut kesabaran. Kalo Om Bons bilang, alon-alon sing penting pelayon, eh, kelakon… heheh…

Syarat yang terakhir adalah penerapan metode reward and punishment (penghargaan dan hukuman). Poin yang ini rasanya sudah cukup jelas dan ‘ga’ perlu diulas panjang lebar. Buat audience yang berprestasi, kasih hadiah or penghargaan, yang mbrekele dikasih jeweran:mrgreen:. Dari situ diharapkan para peserta perubahan akan termotivasi untuk menyukseskan program-program perubahan.

Sekarang menuju ke persoalan yang masih rame dibahas sampe sekarang, yaitu “Naiknya Harga BBM Non-subsidi di Indonesia”.

Seperti yang ditulis wartawan Antara, telah terjadi kecenderungan mobil-mobil mewah mengisi bahan bakarnya dengan premium (lihat di sini). Ironis memang, tapi jangan sepenuhnya menyalahkan atau menjelekkan perilaku tersebut, lihat dulu faktor penyebabnya.

bebek aja minum pertamax, jadi malu...

Sebagaimana kita ketahui bersama, harga pertamax mengalami kenaikan yang sangat signifikan hanya dalam waktu beberapa bulan saja. Cultural shock ini ngga’ berbeda dengan materi pertama di atas, di mana para pemilik R2 dan/atau R4 yang biasa memakai pertamax dipaksa untuk membayar lebih bahan bakar yang biasa mereka beli. Efeknya yang rugi pemerintah juga. Lho ko’ bisa? Jadi begini.. ketika konsumen yang biasa beli pertamax merasa kemahalan dengan harga yang ditetapkan sekarang, wajar kalo mereka bermigrasi ke premium dengan segala konsekuensinya. Ambil contoh, awalnya, dari 100 pemilik motor 60 orang menggunakan premium, 30 orang pake pertamax dan sisanya 10 orang milih pertamax-plus. Ketika terjadi lonjakan harga yang begitu cepat dan tinggi, simulasinya (pendapat pribadi dengan analogi sederhana) begini, 30 orang yang tadinya pake pertamax bergesar sebanyak 25 orang ke premium. Dan dari 10 orang yang milih pertamax-plus tinggal tersisa 3 orang saja, yang lainnya menuju pertamax. Dari kejadian tersebut, akhirnya jadi begini: pengguna premium menjadi 85 orang, pertamax 12 orang dan pertamax-plus 3 orang. Artinya dengan cara pemerintah menaikkan harga BBM Non-subsidi seperti itu justru akan menambah beban subsidi yang seharusnya cuma 60 orang saja yang di subsidi menjadi 85 orang.

Kebijakannya pun ga’ jelas dan ga’ tegas😡. Ga’ ada sosialisasi yang bisa meningkatkan minat pemilik kendaraan bermotor untuk mengganti bahan bakarnya dengan yang non-subsidi😡. Ditambah lagi, ga’ ada reward buat mereka yang bersedia menggunakan pertamax and/or pertamax plus. Juga, ngga ada penalti buat kendaraan mewah and/or memiliki cc besar tapi tetap menggunakan premium😡. Kalau metode yang diterapkan seperti ini dan tidak ada perubahan dari pemerintah sendiri, maka jangan harap orang akan beralih ke BBM non-subsidi.

Buat contoh kongkrit saja, ketika partamax menyentuh harga Rp7.500,-, ane masih bisa untuk tetap memberi si p180 minuman yang menyehatkan. Tapi sekarang, setelah sampai pada harga 9ribuan, hadoh… dompet ane yang baru level tukang servis ga sanggup lagi. Terpaksa P180 ta’ kasih minuman berkolesterol😦 (tinggal nunggu efek negatifnya ke P180).

Andaikan, sekarang harga pertamax masih di sekitaran 7ribuan, ane ga bakal ngelirik ke premium. Coba naikin harganya pelan-pelan, ga usah terlalu mengikuti harga minyak dunia lah… Plus yang beli pertamax 15ltr (akumulasi dan berlaku kelipatan) dapet gratis 1ltr pertamax, dijamin, bakal banyak yang beralih deh… Dan buat kendaraan mewah ‘n cc besar yang tetep mbrekele ngisi premium, tolak saja permintaannya dan paksa drivernya untuk masuk ke pos pertamax or pertamax-plus. Simple, tha..??

Apalagi kalo pemerintah membenahi perekonomian kia yang sudah carut-marut ini, ditambah lagi dengan meningkatkan pendapatan perkapita plus pemusnahan masal buat para koruptor👿, yakin deh, tanpa disuruh masyarakat akan memilih yang terbaik untuk mereka. Orang Indonesia itu buanyak yang cerdas ko’..

Comments
  1. edorusia says:

    artikel yg berfaedah. terus menulis bro, buat penyegaran kita semua. amin

  2. pemaparan yang bagus Mas bro… like this🙂

  3. Rudy SOUL says:

    sama bro….sudah sebulan Si MioS tak kasi bensin miski….!!!pertama g langsung bensin miskin tapi ane campur,skrng sudah 1oo % bensin miskin. :D

  4. Bjl says:

    akar permasalahannya aja deh. kenapa kita ekspor itu minyak mentah, kemudian kita impor lagi (berbentuk premium / pertamax).
    yang goblok siapa sih?

    • kmphlynx says:

      heheh, kita yang *#@$^*. kenapa ngga produksi sendiri? disinyalir ada kaitannya sama politik. kalo gini gimana: beli mesinnya, contek ilmunya, modif dikit trus bikin&patenkan. jadi deh buatan sendiri

  5. kmphlynx says:

    hwadoh! bales komen sj masih salah..???😯😆
    hhh…. aku belajar lagi deh….😳
    @ all jempolers, trims atas supportnya😀

  6. warung DOHC says:

    aturan kurang siphhh… ga das des 👿

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s